Minggu, 20 November 2016

Cara Menurunkan Berat Badan Dalam Seminggu Tanpa Obat & Tetap Kenyang

Cara menurunkan berat badan dalam seminggu bukanlah hal yang mustahil dan bisa dilakukan. Dengan sedikit pengorbanan, Anda bisa menurunkan berat badan 2,5 kg hingga 7 kg. Hasil yang didapat tentu saja tergantung seberapa besar usaha yang dilakukan. Kuncinya adalah tekat dan kemauan yang keras untuk mendapatkan tubuh langsing ideal.
Tingkat keberhasilan diet tergantung pada pelakunya. Jika cepat bosan atau tidak bisa menerapkan aturan diet maka bisa dipastikan diet Anda akan gagal dan tidak akan mendapatkan hasil sesuai target. Karena kebanyakan orang bersemangat di awal kemudian menyerah saat menjalaninya.

Cara Menurunkan Berat Badan Dalam Seminggu

Cara Menurunkan Berat Badan Dalam Seminggu
copyright : www.ukiebrightside.com

Cara Menurunkan Berat Badan

Idealnya berat badan bisa turun antara 1,5 kg - 2,5 kg atau bahkan bisa 7kg pada akhir pekan nanti. Setelah itu tinggal bagaimana Anda mempertahankan berat badan ideal tersebut. Seperti yang dikutip dari ukiebrightside.com, berikut ini rincian hari pertama hingga hari ke tujuh proram yang harus Anda lakukan.
Hari Pertama
Hari pertama merupakan hari yang sangat penting dalam program diet. Karena semua kebiasaan lama dirubah dan tentu saja membutuhkan sedikit adaptasi. Awali hari dengan mengkomsumsi buah-buahan ringan dan berair. Sepanjang hari Anda hanya boleh makan buah-buahan kaya air, kecuali pisang. Anda juga bisa minum air secukupnya untuk mencegah dehidrasi.

Hari Kedua
Jika Anda menginginkan berat badan turun 7 kg, maka Anda harus melakukan diet ketat sayuran. Konsumsi berbagai warna sayuran. Untuk mengolahnya sebaiknya direbus atau bisa dikonsumsi mentah sebagai salad. Jangan mengolah dengan cara digoreng atau ditumis. Untuk menambah variasi, Anda bisa menambahkan kentang. Namun cara mengolahnya juga harus dikukus atau direbus. Jangan lupa tetap konsumsi air putih minimal delapan gelas sehari.

Hari Ketiga
Kombinasikan sayuran dan buah-buahan agar lebih berwarna. Anda dapat mengkonsumsinya tiga kali atau lebih dalam sehari. Jangan menambahkan kentang atau pisang jika ingin menurunkan berat badan sebanyak 7 kg. Asupan air minum tetap seperti hari sebelumnya agar terhindar dari dehidrasi.
Hari Keempat
Hari ini Anda hanya boleh mengkonsumsi pisang dan susu. Pisang bisa diolah menjadi apa saja kecuali digoreng, misalnya milkshake pisang atau dikonsumsi secara langsung. Ingat, hanya kedua menu ini yang diperbolehkan.
Hari Kelima
Pada hari kelima ini biasanya Anda sudah merasakan sedikit perbedaan dan sedikit ringan. Anda boleh mengkonsumsi 5 sendok nasi . Tambahkan 7-8 potongan tomat mentah atau direbus. Anda bisa mengkonsumsi nasi dua kali pagi dan siang. Untuk malam sebaiknya jangan mengkonsumsi nasi. Tingkatkan jumlah asupan air minum Anda.
Hari Keenam
Sarapan pagi dengan protein, untuk makan siangnya konsumsi nasi 5 sendok dengan lauk sayuran saja.
Hari Ketujuh
Hari terakhir diet Anda tetap bisa mengkonsumsi 5 sendok nasi dengan sayuran dan buah-buahan segar. 
Kini Anda bisa mengecek berat badan Anda, berapa kg berat badan yang berhasil Anda pangkas? Jika ingin mempertahankan berat badan atau ingin membakar lemak tubuh lebih banyak lagi, Anda dapat rutin melakukan latihan kardio seperti jongging dan bersepeda. Bisa juga berolahraga di tempat gym untuk membentuk tubuh proporsional. Jangan lupa tetap jaga asupan makanan agar tidak terjadi penambahan lemak tubuh.

nah jika anda yang sedang diet dan merasa lapar, maka disarankan untuk makan2an yang satu ini, nah lebih lanjutnya klik disini untuk menuju ke halaman saya berikutnya. hati2 jika salah membaca anda akan semakin gendut hehehe. klik ya disini

diet sehat tanpa obat dan tetap kenyang

Cara diet alami lebih aman dan tidak beresiko mengganggu kesehatan dari pada diet menggunakan obat-obat pelangsing yang belum jelas khasiatnya.

Kamis, 03 Maret 2016

. Polusi Udara
Otak merupakan konsumen oksigen paling besar di dalam tubuh kita. Menghirup udara yang tercemar atau mengandung polusi akan menurunkan suplai oksigen ke dalam otak sehingga membuat efisiensi otak menurun.
6. Kekurangan Tidur
Otak membutuhkan tidur sebagai sarana untuk beristirahat sekaligus memulihkan kemampuannya. Kurang tidur dalam jangka waktu yang lama akan mempercepat kerusakan sel-sel di otak.
7. Kebiasaan Tidur dengan Menutup Kepala
Kebiasaan menutup kepala saat tidur ternyata akan meningkatkan konsentrasi zat karbondioksida serta menurunkan konsentrasi oksigen. Akibatnya, akan timbul efek kerusakan di otak.
8. Menggunakan Pikiran Saat Sedang Sakit
Bekerja habis-habisan atau memaksakan untuk memakai pikiran saat kita sakit bisa menyebabkan berkurangnya efektivitas otak dan bisa merusak otak.
9. Kurangnya Stimulasi pada Otak
Untuk melatih otak kita, berpikir adalah cara yang paling tepat. Kurangnya menstimulasi pikiran di otak bisa menyebabkan mengkerutnya otak manusia.
10. Jarang Berkomunikasi
Komunikasi dibutuhkan sebagai salah satu media untuk memacu kemampuan bekerja otak. Melakukan komunikasi secara intelektual bisa memicu efisiensi otak. Sebaliknya, jarang berkomunikasi akan membuat kemampuan intelektual otak menjadi kurang terlatih.
Menghilangkan kebiasaan buruk memanglah tak mudah, tetapi tak sesulit yang dibayangkan. Yang jadi permasalahan adalah kadang kita belum yakin apakah kebiasaan buruk tersebut bisa dimusnahkan dan dihentikan dalam diri kita selama-lamanya.
 
 
 
 
 
 
2 Votes

Kamis, 23 Juli 2015

butterfly effect

butterfly effect
cerita ini terealisasi dari sedikit pengalaman pribadi saya, ya hanya sedikit yang bisa saya ceritakan tapi tetap ikuti terus perkembangan blog saya, karna saya akan menulis berbagai cerita & semoga ini memotivasi baik untuk saya maupun pembacanya.

Sebut saja pria itu bernama Ariel. Di pagi hari ia memulai kebiasaannya, dengan mata kantuk Ariel langsung mengambil tas yang biasa ia kenakan untuk berangkat ke tempat kuliahnya, tanpa mandi dan tanpa persiapan apapun ia bergegas begitu saja. Suasana di dalam kampus terlihat tidak begitu ramai karena 1 jam sudah mulai waktu pelajaran, maka semakin cepat langkah Ariel menuju ke lantai 5 ruang 552 tempat ia belajar bersama teman2nya. Terdengar ketukan pintu dan terlihat raut muka yang begitu panik ketika pintu terbuka. "Selamat pagi, maav pak saya terlambat hari ini", suasana hening terpecah menjadi ramai dengan banyak tawa yang terdengar dari kelas karena melihatnya.



nanti dilanjut lagi viewers bloggerifanto. mari solat jumat bagi kaum pria, & doakan yang lebih baik bagi kaum wanita. gets luck man !!!

Minggu, 19 Juli 2015

pengorbanan

Saya ingin menceritakan sedikit tentang sebuah sosok yang selalu teguh dan sabar dalam menghadapi semua cobaan yang datang silih berganti. Pada suatu ketika,sebut saja nama nya esi...mendapatkan cobaan yang begitu berat menurut dia,yang tak sanggup dia terima. Dari kejadian itu,sempat terlintas di benaknya untuk tak pernah percaya lagi dengan cinta, karena dengan cinta lah dia kehilangan seorang sosok yang dia sayangi dan cintai.saya akan bercerita sedikit awal dan akhir kisah esi dengan seorang pemuda yang dia sayangi dan cintai.sebut saja nama pemuda itu dika.pada waktu itu, esi berkenalan dengan seorang pemuda yang tampan dan baik hati, mereka saling berkenalan dan akhirnya mereka jadi teman.

Setiap hari mereka saling bertemu,walau bertemu nya diluar rumah dan tanpa sepengetahuan orang tua Esi. Di luar rumah mereka sering mengobrol dan saling bertukar fikiran. Pada suatu hari,disaat Dika ingin liburan bersama teman-temannya di suatu tempat dan Dika pun tidak memberi tahu kepada Esi, bahwa Dika akan liburan bersama teman-teman nya di suatu tempat.sebelum dika berangkat liburan,dika pernah berjanji bahwa besok sore dika ada janjian kepada esi untuk ketemuan di tempat biasa mereka ketemu.tapi,dika lupa bahwa dika ada janji dengan esi. Pada keesok hari nya dika berangkat liburan bersama teman-temannya tanpa memberitahu esi.setelah dika didalam perjalanan mau berangkat liburan dan pada waktu itu dika hampir nyampe di tempat tujuan liburannya dan seiring itu,esi juga lagi dalam perjalanan untuk pergi menemui dika di tempat mereka sering bertemu.,pada akhirnya esi sampai ketempat yang dika janji kan kepada esi.

pada saat itu esi duduk nyantai sambil menunggu dika yang belum juga sampai.esi pun terus menunggu tanpa lelah dan jenuh. Sudah 1 jam esi menunggu dika,2 jam,3 jam dan 4 jam terus menunggu kedatangan dika, sampai akhirnya hujan pun turun deras dan petir pun keras bergemuruh di atas langit.tapi,esi pun tetap setia menunggu dika.lama kemudian,titik jenuh dan letih pun mulai menghampiri esi yang lagi dalam kesendirian dan ditemani runtuhan hujan,petir dan angin yang sangat dingin.tidak lama kemudian,esi pun pulang kerumah dengan wajah yang sedih,sedikit kesal dan baju yang basah kuyup.padahal andaikan esi bisa bertemu dengan dika pada saat itu,,,mungkin esi akan mengungkapkan suatu perasaan yang esi rasakan saat ini yaitu ingin mengatakan dan mengungkapkan bahwa esi sangat mencintai dika.tapi,harapan tu seakan ingin luntur karena dika tidak menemui esi di tempat mereka sering bertemu.rasa kecewa dan putus asa pun sempat terlintas di benak esi. Pada keesok harinya, dika pulang dari liburannya...pada waktu itu,dika tidak langsung pulang kerumahnya,malah dika langsung ingin menemui esi,karena dika ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada esi yaitu tentang perasaannya kepada esi.

Tidak lama kemudian, dika sampai kerumah esi tanpa diketahui oleh orang tua esi..dika sampai dirumahnya.pada saat itu orang tua esi lagi pergi keluar kota yaitu lagi pergi kerumah neneknya esi.pada saat itu,dika bertemu dengan esi yang lagi duduk di ruang tamu dan dika menghampiri esi yang lagi duduk nyantai diruang tamu,spontan esi langsung terkejut atas kedatangan dika. Pada waktu itu dika menyapa esi,, kok bengeong sich??? emang apa yang kamu pikirkan??? Esi pun langsung menjawab pertanyaan dika...”tidak ada kok yang saya pikirkan”. Terus kenapa kamu bengeong??? jawab dika.. dan esi pun berkata, “tidak ada apa-apa kok”. Pada saat itu,esi menyindir dika, sambil menangis, kata esi...emang tidak enak ya,nunggu seseorang...tapi,seseorang itu tidak datang...sampai-sampai orang yang nunggu kehujunan. Setelah esi mengatakan itu,dengan tidak sadar dika teringat atas janji nya kepada esi,,dika pun meminta maaf dan menjelas kan dengan esi kenapa dika tidak menepati janji itu, esi pun mendengarkan dan menerima penjelasaan dari dika.esi pun memaafkan atas kesalahan dika. Dika pun menjadi senang dan lega,karena esi bisa memaafkan dika.

Tidak lama kemudian,dika mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada esi,sampai-sampai dika gerogi mengatakan sesuatu itu kepada esi.tapi,perlahan-lahan dika mengatakan sesuatu yang menurut dika penting. Dika : oh iya esi,boleh tidak saya mengatakan sesuatu kepada kamu??? Esi : emang apa’an sich dika,,ngomong aja!!! Dika : saya mau ngomong dan mengatakan sesuatu,bahwa saya suka sama kamu.mau tidak kamu jadi pacar saya. Esi : sambil tersipu malu dan tersenyum,,esi pun menjawab...saya mau kok jadi pacar kamu.sebenarnya saya juga suka sama kamu. Akhirnya dika dan esi menjalin hubungan pacaran...mereka saling menyayangi dan mencintai satu sama lainnya. Dengan seiring waktu, dika dengan esi telah menjalin hubungan sampai 2 tahun, hubungan mereka tanpa diketahui oleh orang tua esi. 2 minggu kemudian,esi memberanikan diri untuk bicara dengan orang tuanya atas hubungan nya dengan dika. Pada saat itu,esi bicara dengan orang tua nya,kalau esi pacaran dengan dika..dengan spontan orang tua esi marah besar kepada esi,karena orang tua esi tidak setuju atas hubungan esi dengan dika..sebab,pada waktu itu...esi masih kuliah dan belum tamat kuliah.orang tua esi tidak mengizinkan esi untuk pacaran,sebelum esi tamat kuliah.esi pun menangis mendengar perkataan orang tua nya yang terlalu kasar kepadanya dan esi pun pergi keluar dan menemui dika dirumahnya untuk menceritakan tentang perkataan orang tuanya.

Dika pun terdiam tanpa kata dan terpaku tanpa suara setelah mendengar cerita dari esi. Tidak lama kemudian,dika memberi semangat kepada esi dan menenangkan hati esi yang lagi sedih.sedih esi pun mulai berkurang,ketika mendengar masukan dan semangat dari dika yang diberikan untuk esi.dika berkata,,,apa pun akan aku lakukan untuk memperjuangkan cinta kita...walau nyawa saya jadi taruhannya.sampai kapan pun cinta dan sayang ku kepadamu tak kan pernah berubah dan dika pun berkata,,,cintaku tak kan lekang oleh waktu. Dengan penuh percaya diri dan semangat yang tinggi,,,dika beranikan diri untuk menemui orang tua esi dan bicara dengan orang tua esi,,untuk meminta restu atas hubungan mereka. Pada saat itu,orang tua esi sangat marah besar saat melihat dika menemuinya,,,dika pun bicara baik-baik dengan orang tua esi,agar orang tua esi bisa merestui hubungan mereka. Bukan dapat restu malah dapat tamparan yang sangat keras oleh orang tua esi..dika pun diusir dengan tidak hormat oleh orang tua esi. Esi pun menangis saat melihat dika di tampar dan diusir oleh orang tua nya. Dika pun pergi dari rumah esi,karena telah diusir oleh orang tuanya...dengan sedikit kesal dan sedih..dika pun pergi dari rumah esi. Esi pun terus menangis tanpa henti di dalam kamar tanpa makan dan minum...esi pun terus larut dalam kesedihan.

Tiap hari dan tiap malam esi selalu menangis dan termenung.orang tua esi pun melihat keadaan esi yang hari demi hari kurang baik. Orang tua esi pun berfikir untuk pindah rumah,agar esi bisa melupakan dan tidak bertemu dengan dika lagi.akhirnya esi dan orang tuanya pindah rumah,kerumah neneknya esi yang diluar kota. Sebulan kepindahan esi,,dika tidak mendengar atau mendapatkan kabar dari esi.akibat dika tidak mendengar kabar nya...dika mencoba memberanikan diri untuk menemui esi dirumahnya..sampai dirumahnya dika tidak menemukan esi..malah rumah esi tertutup rapi tanpa ada penunggunya.karena penasaran,dika bertanya dengan tetangga sebelah rumah esi..kata tetangga...kalo esi dan keluarga nya sudah pindah kerumah neneknya yg diluar kota..dika pun bertanya dimana rumah neneknya.tapi,tetangga dekat rumah esi itu tidak tau rumah nenek esi itu dimana.sebab,yang mereka tau rumah nenek esi itu diluar kota.tapi,tidak tau dimana tempatnya. Pada saat itu,dika menangis dan sedih..orang yang di sayangi dan dicintainya tidak tau dimana. Dika tidak menyerah begitu saja,dika terus mencari dan mencari esi..pada suatu ketika, disaat dika lagi sibuk mencari esi, disuatu perjalanan... mobil yang ditumpai dika tabrakan dan merenggut nyawa dika dan nyawa penumpang lainnya.kecelakan tersebut sampai masuk surat kabar dan berita di televisi. Esi yang lagi merenung di depan televisi, tidak sengaja melihat berita kecelakaan dika, waktu esi melihat berita itu,,dengan spontan esi langsung pingsan. Tidak lama kemudian,esi sadar dan esi tidak tau kalau dia telah berada di atas kasur dikamarnya.

Orang tuanya mendampingi esi dan menanyakan kepada esi kenapa esi pingsan???esi pun berkata sambil menangis tersedu-sedu,,,dia berkata pada orang tuanya bahwa dika telah meninggal akibat kecelakaan. Orang tua esi pun terkejut dan mengeluarkan air mata,,,orang tua esi merasa bersalah....karena orang tua esi pernah kasar terhadap dika telah dan tidak merestui hubungan mereka.apa lah daya,,,nasi telah menjadi bubur,,,maaf tak bisa di ucapkan lagi...hanya doa lah yang bisa di ucapkan oleh orang tua esi kepada dika. Atas kepergian dika,,esi menjadi orang yang selalu murung dan selalu sedih. Esi pun tidak punya semangat hidup,karena orang yang disayangi dan dicintai nya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.esi kembali tidak keluar kamar dan tidak makan dan minum,,,sampai-sampai orang tua esi khawatir,karena esi tidak keluar kamar selama 2 hari. Orang tua esi pun curiga dan langsung menghampiri kekamar esi untuk melihat keadaan esi.tanpa disangka dan diduga,orang tua esi pun terkejut melihat anak satu-satunya terbaring tidak bernyawa di atas kasur. Orang tua esi pun menjerit menangis melihat anaknya tidak bernyawa lagi.karena cinta lah esi berani berkorban demi orang yang disayangi nya. Begitu juga dika,karena cinta juga lah dika kehilangan nyawa. Itu lah sebuah kisah yang begitu dramatis dan begitu romantis yang berakhir dengan kematian.sampai-sampai demi cinta nya mereka berani berkorban untuk orang yang disayangi dan dicintainya. Artikel berikutnya »

Rabu, 15 Juli 2015

SATU

SITTAFORD HOUSE





MAYOR Burnaby memasang sepatu larsnya yang terbuat dari karet, mengancingkan leher mantelnya, dan mengambil sebuah lentera badai dari rak di dekat pintu. Lalu dengan hati - hati dibukanya pintu bungalonya yang kecil, dan ia melongok ke luar.

Pemandangan yang dilihatnya adalah pemandangan khas pedesaan di Inggris, seperti yang terlukis pada kartu - kartu Natal dan dalam buku - buku cerita kuno. Dimana mana terlihat salju yang berupa gumpalan-gumpalan bertumpuk tinggi, bukan sekedar lapisan yang tebalnya tiga atau lima sentimeter saja. Salju telah turun di seluruh Inggris selama empat hari terakhir ini, dan di pinggir kota Dartmoor ini, tingginya mencapai beberapa meter. Para ibu rumah tangga di seluruh Inggris mengeluh karena pipa-pipa air pecah. Sungguh menguntungkan kalau punya teman yang menjadi tukang pipa (atau pembantu tukang pipa), sehingga dapat dimintakan bantuannya.

Desa kecil Sittaford, yang dalam keadaan biasa pun sudah terpencil dari dunia, kini hampir terputus sama sekali hubungannya dengan dunia luar. Musim salju yang keras memang merupakan masalah besar.

Namun, Mayor Burnaby adalah orang yang keras hati. Ia mendengus , mengeram, lalu melangkah ke luar dengan mantap, menembus salju.

Tujuannya tidaklah jauh. Hanya beberapa langkah di sepanjang jalan yang berkelok, memasuki sebuah pintu pagar, lalu menyusuri sebuah jalan masuk yang saljunya sudah disapu sebagian, menuju sebuah rumah dari batu granit yang lumayan besarnya.

Pintu rumah dibuka oleh seorang pelayan yang berpakaian rapi. Mayor Burnaby dibantu menanggalkan mantelnya, sepatu larsnya yang terbuat dari karet, dan syal tuannya.

Sebuah pintu dibuka lebar-lebar, dan ia melewati pintu itu, masuk ke sebuah ruangan yang suasananya memenuhi angan setiap orang.

Meskipun waktu itu baru pukul setengah empat, gorden-gorden jendela sudah ditutup semua, lampu-lampu listrik sudah dinyalakan, dan api besar menyala ceria di perapian. Dua orang wanita yang mengenakan pakaian petang, bangkit untuk menyambut mantan perwira yang bertubuh tegap itu.

"Menyenangkan sekali Anda datang, Mayor Burnaby," kata wanita yang lebih tua.
"Anda baik sekali telah mengundang saya, Mrs. Willet." Ia berjabat tangan dengan kedua wanita itu.
"Mr. Garfield sebentar lagi datang," kata Mrs. Willet lagi. "Juga Mr. Duke. Dan Mr. Rycroft telah berjanji akan datang, tapi jangan terlalu diharapkan kedatanganya, menjengkelkan sekali cuaca ini. Violet, tolong masukkan sepotong kayu lagi kedalam api." Dengan sopan Mayor Burnaby bangkit untuk menjalankan pekerjaan itu.
"Biar saya saja, Miss Violet."
Dengan cekatan dimasukkanya kayu ke tempat yang tepat, lalu ia kembali lagi ke kursi yang sudah ditunjukkan oleh nyonya rumah untuknya. Sambil berusaha supaya tidak kentara, ia mencuri pandang ke seputar ruangan itu. Sungguh mengagumkan bagaimana dua orang wanita bisa mengubah suasana seluruh ruangan itu, padahal mereka tidak melakukan hal yang luar biasa, yang memerlukan bantuan orang lain.

Sittaford House dibangun oleh Kapten Joseph Trevelyan dari Angkatan Laut Kerajaan, sepuluh tahun yang lalu, waktu ia mulai menjalani masa pensiunnya dari Angkatan Laut. Ia seorang pria yang cukup kaya dan sudah lama mendambakan tinggal di Dartmoor. Pilihannya jatuh pada desa kecil di Sittaford. Desa itu tidak terletak di suatu lembah seperti kebanyakan desa dan tanah peternakan, melainkan bertengger tepat di puncak sebuah padang rumput, di bawah bayangan Bukit Sittaford Beacon. Ia membeli sebidang tanah luas. Di situ dibangunnya sebuah rumah nyaman, dengan pembangkit tenaga listrik sendiri dan sebuah pompa listrik, agar ia tak perlu bersusah-payah memompa air. Kemudian ia berspekulasi dan membangun enam bungalo kecil, masing-masing di atas tanah seluas seperempat hektar, di sepanjang jalan.

Salah satu bungalo itu yang terdekat dengan pintu pagar rumahnya sendiri diberikannya pada sahabat karibnya, Jhon Burnaby. Yang lain secara bertahap laku juga dijualnya, karena masih ada juga orang yang memilih atau terpaksa tinggal terpisah dari dunia luar. Di desa itu sendiri memang sudah ada tiga rumah kecil, tapi sudah rusak. Ada pula sebuah bengkel pandai besi, dan sebuah kantor pos yang merangkap toko kue-kue. Kota terdekat dari situ adalah Exhampton, yang jauhnya sembilan kilometer. Jalanan ke sana terus menurun, hingga diperlukan tanda bertuliskan Para pengemudi harap menggunakan persneling terendah di sepanjang jalan-jalan di Dartmoor itu.

Seperti telah disebutkan tadi, Kapten Travelyan adalah seorang yang cukup kaya. Namun demikian atau justru karena itu ia sangat suka pada uang. Akhir bulan Oktober yang lalu, seorang makelar rumah di Exhampton menulis surat padanya, menanyakan barangkali ia mau mempertimbangkan untuk menyewakan Sittaford House. Ada seorang penyewa yang telah menanyakan rumah itu, dan menyatakan keinginannya untuk menyewanya selama musim dingin.

Mula-mula Kapten Trevelyan ingin menolak, tapi kemudian ia meminta keterangan lebih lanjut.ternyata calon penyewanya adalah seorang wanita bernama Mrs. Willet, janda dengan seorang putri. Ia baru datang dari Afrika Selatan dan menginginkan sebuah rumah di Dartmoor selama musim dingin.

“Gila-gilaan, perempuan itu pasti gila,” kata Kapten Trevelyan. “Ya, Burnaby, kau sependapat, kan?”
Burnaby membenarkan. Katanya, “ Pokoknnya, kalau tak mau menyewakannya, suruh perempuan bodoh itu pergi ke tempat lain, bila ia memang berkeras ingin membeku. Padahal ia baru datang dari daerah Afrika Selatan yang panas.”

Tapi kemudian jiwa bisnis Kapten Travelyan-lah yang menang. Jarang sekali orang mendapat kesempatan untuk menyewakan rumah di tengah-tengah musim dingin. Ditanyakannya berapa calon penyewa itu berani membayanya.

Tawaran sebesar dua belas guinea seminggu disepakati bersama. Lalu Kapten Trevelyan pergi ke Exhampton, menyewa sebuah rumah kecil di pinggir kota seharga dua guinea seminggu. Sittafod House pun diserahkan pada Mrs. Willet, dengan syarat separo dari uang sewa itu harus dibayar di muka.

“Bodoh sekali dia. Uangnya akan segera berkurang,” geramnya. Tapi petang ini, Burnaby diam-diam memperhatikan Mrs. Willet. Menurutnya, wanita itu sama sekali tidak kelihatan seperti orang bodoh. Ia bertubuh tinggi dan sikapnya agak canggung, tapi pandangannya sama sekali tidak bodoh, bahkan cenderung tajam. Cara berpakaiannya agak berlebihan, logat bicaranya jelas dari daerah jajahan. Agaknya ia puas sekali dengan transaksi itu. Jelas bahwa ia cukup kaya, sehingga Burnaby menanggap keinginannya untuk tinggal di situ aneh sekali. Ia tidak tergolong orang yang senang menyepi.

Sebagai seorang tetangga, wanita itu amat ramah. Tetangga-tetangganya dihujaninya dengan undangan utnuk berkunjung ke Sittaford House. Kapten Travelyan terus-menerus didesak untuk “bersikap seolah-olah rumah ini tidak kami sewa”. Tapi Travelyan tak suka pada wanita. Ada desas-desus bahwa ia pernah dikhianati kekasihnya di masa muda. Dan ia tetap menolak semua undangan Mrs. Willet.

Sudah dua bulan keluarga Willet menetap di tempat itu, dan rasa ingin tahu orang tentang pendatang-pendatang baru itu pun sudah berkurang.

Burnaby, yang memang bersifat pendiam, terus memperhatikan nyonya rumahnya, sampai-sampai ia lupa bercakap-cakap sekadar basa-basi. Wanita itu memang suka berpura-pura seperti orang bodoh, padahal sebenarnya tidak. Begitulah kesimpulannya. Pandangannya beralih pada Violet Willet. Gadis itu cantik, tapi kurus kering. Begitulah semua gadis zaman sekarang. Apa artinya seorang wanita kalau tidak menampakkan segi-segi kewanitaannya? Tapi menurut surat-surat kabar, sekarang mode kembali pada kecenderungan untuk menonjolkan lekuk-lekuk tubuh. Itu memang lebih bagus.

Ia menyadari bahwa ia harus bercakap-cakap.
“Mula-mula kami khawatir kalau-kalau Anda tak bisa datang,” kata Mrs. Willet. “Soalnya Anda berkata ‘begitu, bukan? Kami senang sekali ketika Anda akhirnya mengatakan akan datang.”
“Soalnya ini hari Jumat,” Mayor Burnaby menjelaskan.
Mrs. Willet kelihatan heran.
“Mengapa kalau hari Jumat?”
“Setiap hari Jumat saya pergi ke rumah Travelyan. Hari Selasa ia yang datang ke tempat Saya. Kami telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun.”
“Oh, begitu! Saya mengerti. Ya, Anda berdua memang tinggal sangat berdekatan....”
“Itu telah menjadi semacam kebiasaan.”
“Tapi apakah Anda masih tetap melakukannya? Maksud saya, setelah ia kini tinggal di Exhampton....”
“Sayang untuk menghentikan suatu kebiasaan,” kata Mayor Burnaby. “Kami berdua akan merasa kehilangan malam-malam kebersamaan, kami itu.”
“Saya dengar Anda suka mengikuti sayembara-sayembara, ya?” tanya Violet.
“Seperti acrostic, teka-teki silang, dan sebagainya.”
Burnaby mengangguk.
“Saya suka teka-teki silang, Travelyan mengikuti acrostic. Kami masing-masing bertahan pada kesukaan kami. Bulan lalu saya memenangkan tiga buku dalam suatu sayembara teka-teki silang, “tambah nya.
“Oh! Menyenangkan sekali. Apakah buku-buku itu menarik?”
“Entahlah. Saya belum membacanya. Kelihatannya jelek sekali.”
“Yang penting, Anda telah memenangkannya, bukan?”
“Berjalan.”
“Apa? Berjalan? Sejauh sembilan setengah kilometer?”
“Itu merupakan latihan yang baik. Apalah artinya sembilan belas kilometer pulang-perg? Itu menyehatkan. Dan kita senang kalau kita sehat bukan?”
“Bayangkan! Sembilan belas kilometer. Tapi Anda maupun Kapten Travelyan bekas atlet, bukan?”
“Kami berdua pernah pergi ke Swiss. Pada musim dingin, kami bermain olahraga salju. Pada musim panas, kami mendaki gunung. Travelyan jagoan olahraga di atas es, tapi sekarang kami berdua suda terlalu tua untuk hal-hal semacam itu.”
“Anda juga pernah memenangkan Kejuaraan Racquet Angkatan Perang, bukan? “tanya Violet.
Wajah Mayor Burnaby memerah seperti seorang gadis.
“Siapa yang menceritakan itu pada Anda?” gumamnya.
“Kapten Travelyan.”
“Si Joe seharusnya tutup mulut,” kata Burnaby.
“Ia terlalu banyak bicara. Bagaimana cuaca sekarang, ya?”
Violet memahami rasa risih sang Mayor, lalu mengikutinya pergi ke jendela. Mereka menyibak gorden jendela, dan memandang ke luar, melihat pemandangan yang sepi.
“Salju masih akan turun terus,” kata Burnaby.
“Dan rasanya cukup lebat.”
“Aduh! Menyenangkan sekali, “ kata Violet. “Saya rasa salju itu romantis sekali. Saya pernah melihatnya.”
“Tak romantis lagi bila pipa-pipa membeku, anak bodoh,” celetuk ibunya.
“Apakah Anda tinggal di Afrika Selatan sepanjang hidup Anda, Miss Willet?” tanya Mayor Burnaby.
Sikap akrab gadis itu tiba-tiba berkurang. Ia nampak agak tegang ketika menjawab.
“Ya.... inilah pertama kali saya meninggalkannya. Semuanya jadi mendebarkan sekali.”
Mendebarkan? Terkurung begini, di sebuah desa berawa-rawa yang terpencil seperti ini? Aneh-aneh saja pikiran orang. Ia tak mengerti orang-orang ini.
Pintu terbuka, dan pelayan memberitahukan,
“Mr. Rycoft dan Mr. Garfield.”
Yang masuk adalah pria tua bertubuh kecil yang kelihatannya gersang, dan seorang pemuda yang segar dan tampak kekanak-kanakan. Anak muda itulah yang mula-mula berbicara,
“Saya mengajak Mr. Rycoft pergi, Mrs. Willet. Saya katakan, saya tidak akan membiarkannya tenggelam dalam badai salju. Ha, ha. Wah, kelihatannya menyenangkan sekali. Kayu-kayu besarr dibakar.”
“Benar katanya. Anak muda yang baik hari ini menuntun saya kemari,” kata Mr. Raycoft sambil berjabatan tangan dengan sikap resmi. “Apa kabar, Miss Violet? Cuaca hari ini sesuai benar dengan musimnya, tapi saya rasa terlalu banyak salju.” Lalu ia berjalan mendekati perapian, dan bercakap-cakap dengan Mrs. Willet. Ronald Garfield memonopoli Violet. “Ngomong-ngomong, apakah tak ada tempat untuk meluncur di atas es? Apakah tak ada kolam di sekitar sini?”
“Saya rasa, menggali salju untuk membuka jalan adalah satu-satunya olahraga disini.”
“Oh, kalau itu, sudah sepanjang pagi ini saya melakukannya.”
“Oh, hebat sekali Anda!”
“Jangan menertawakan Saya. Tangan saya lecet semua.”
“Apa kabar bibi Anda?”
“Oh, biasa-biasa saja. Kadang-kadang ia berkata merasa lebih sehat dan kadang-kadang sakitnya makin parah. Tapi saya rasa keadaanya sama saja. Hidup seperti ini rasanya mengerikan sekali. Setiap tahun saya bertahan, tapi mau apa lagi. Kalau saya tak siap melayaninya sekitar hari-hari Natal, bisa-bisa uangnya diwariskannya pada Wisma Penampungan Kucing-kucingnya nanti. Ia sendiri memiliki lima ekor kucing. Saya terpaksa harus membelai-belai binatang-binatang setan itu, dan berpura-pura suka sekali pada mereka.”
“Saya lebih suka anjing daripada kucing.”
“Saya juga begitu. Sejak dulu. Maksud saya, anjing itu.... yah, tetap anjing lah.”
“Apakah bibi Anda memang sejak dulu suka pada kucing?”
“Saya rasa perawan-peraawan tua lama-kelamaan memang terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Uh! Saya benci sekali pada binatang-binatang setan itu.”
“Bibi Anda itu baik, tapi agak menakutkan.”
“Saya juga merasa ia menakutkan. Kadang-kadang ia membentak-bentak saya. Pikiran saya ia tak punya pikiran dan perasaan.”
“Ah, masa!”
“Ah, jangan berkata begitu. Banyak orang kelihatannya bodoh, tapi di belakang ia tertawa.”
“Mr. Duke,” Kata pelayan.
Mr. Duke adalah seorang pendatang baru. Ia telah membeli bungalo terakhir di antara enam bungalo Kapten Travelyan bulan September yang lalu. Ia bertubuh besar, sangat pendiam, dan sangat suka berkebun. Mr. Rycoft, yang sangat gemar akan burung dan tinggal di sebelahnya, selama ini telah mengamat-amatinya. Ia tak setuju dengan pendapat umum yang mengatakan bahwa Mr. Duke adalah orang baik dan sama sekali tak banyak lagak. Memang orang itu baik, tapi apakah ia tidak terlalu... yah, tidak terlalu apa ya? Mungkinkah ia seorang mantan pengusaha?

Tapi tak seorangpun mau bertanya padanya dan orang memang berpendapat bahwa hal itu sebaiknya tak usah diketahui. Karena bila orang sampai tahu, keadaan mungkin jadi tak enak. Padahal dalam masyarakat sekecil ini, sebaiknya kita mengenal setiap orang.
“Anda pasti tidak akan berjalan kaki ke Exhampton dalam cuaca seburuk ini, bukan?” tanya nya pada Mayor Burnaby.
“Tidak, saya rasa Travelyan pun tidak mengharapkan kedatangan saya malam ini.”
“Menjengkelkan sekali, ya?” kata Mrs. Willet. Ia bergidik. “Terkubur di sini selama bertahun-tahun pasti mengerikan sekali.”
Mr. Duke melihat sekilas padana. Mayor Burnaby juga menatapnya dengan rasa ingin tahu. Pada saat itu teh dihidangkan.